UMKM unggulan binaan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Timur tampil dalam Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026 di Jakarta. Sebanyak 15 UMKM Kaltim membawa produk wastra, kriya, fesyen, hingga kuliner berbasis potensi lokal untuk memperluas akses pasar dan membangun jejaring bisnis nasional hingga ekspor.

KaltimUP, JAKARTA – Sebanyak 15 UMKM unggulan binaan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Timur tampil dalam Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026, membawa produk berbasis budaya dan potensi lokal Kaltim ke panggung nasional.

Keikutsertaan tersebut menjadi momentum bagi pelaku UMKM daerah untuk memperluas pasar, membangun jejaring bisnis, sekaligus membuka peluang masuk ke pasar ekspor.

KKI 2026 berlangsung pada 20–23 Agustus 2026 di Hall A dan B Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta. Ajang tahunan Bank Indonesia itu dibuka Pejabat Gubernur Sementara BI, Destry Damayanti, Kamis (20/8/2026).

Destry mengatakan KKI menjadi bagian dari strategi memperkuat daya saing UMKM melalui perluasan akses pembiayaan, pasar, dan digitalisasi.

“Penguatan UMKM ke depan diwujudkan melalui tiga kata kunci, yaitu Bangkit, Tangguh, dan Berdaya Saing. Bangkit merupakan semangat pemulihan UMKM yang menghadapi tantangan ekonomi maupun bencana alam,” ujar Destry.

Secara nasional, UMKM memiliki posisi strategis dalam perekonomian. Jumlahnya mencapai sekitar 64 juta pelaku usaha, menyerap 97 persen tenaga kerja, serta berkontribusi lebih dari 60 persen terhadap PDB nasional.

Kepala Perwakilan BI Kaltim, Jajang Hermawan, mengatakan pengembangan UMKM di daerah diarahkan agar kekayaan budaya dan potensi komoditas lokal dapat menghasilkan nilai ekonomi yang lebih tinggi.

“Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Timur terus memperkuat pembinaan UMKM secara end-to-end agar pelaku usaha semakin adaptif, inovatif, dan berdaya saing, sekaligus mampu memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian daerah,” katanya.

Sebanyak 15 UMKM Kaltim yang mengikuti KKI 2026 menampilkan produk wastra, kriya, fesyen, kerajinan, serta makanan dan minuman olahan berbasis potensi lokal.

Beberapa di antaranya Putri Mahakam, Pokan Takaq, Sarung Tenun Rahmadina, Qisbelin, Loa Honey, CV Matan Gallery, Manika Kaltim, dan Kudungga Batik.

Kehadiran mereka tidak hanya menjadi ajang promosi produk. KKI menjadi ruang untuk mempertemukan pelaku usaha dengan calon pembeli, mitra bisnis, lembaga pembiayaan, hingga jaringan pasar yang lebih luas.

Dengan demikian, keikutsertaan UMKM Kaltim diarahkan untuk mendorong produk lokal naik kelas, tidak hanya dari sisi kualitas, tetapi juga akses pasar dan kapasitas produksi.

Partisipasi Kaltim juga diperkuat dari sektor kopi. Tiga barista daerah, yakni Nanda Danuarta, M. Al Ghifari, dan Joese Andrew Josly Kansil, berhasil masuk 24 besar Cangkir Barista Championship 2026 tingkat nasional setelah bersaing dengan ratusan peserta dari berbagai daerah.

Capaian tersebut menjadi indikator berkembangnya ekosistem kopi dan talenta kreatif di Kaltim, sekaligus membuka ruang penguatan jejaring industri kopi daerah.

KKI 2026 merupakan penyelenggaraan ke-11 dengan sejumlah pembaruan, mulai dari perluasan kolaborasi, penguatan rantai nilai, inovasi generasi muda, hingga penerapan prinsip keberlanjutan melalui konsep zero emission dan zero waste to landfill.

Selama empat hari, pameran luring di JICC diikuti lebih dari 550 UMKM, meningkat dibandingkan 362 UMKM pada KKI 2025. Sementara pameran digital melibatkan lebih dari 1.300 UMKM, naik dari lebih dari 1.100 UMKM pada tahun sebelumnya.

KKI 2026 juga menghadirkan 44 rangkaian kegiatan, mencakup business matching pembiayaan, ekspor dan value chain, talkshow ekonomi dan keuangan inklusif, showcase UMKM, Area Cangkir Nusantara, pariwisata, hingga berbagai aktivasi dan instalasi hijau.

Produk yang dipamerkan pun semakin beragam, mulai dari wastra, ready to wear, aksesori, home decor, kopi, makanan dan minuman olahan hingga atraksi desa wisata.

Bagi UMKM Kaltim, panggung KKI 2026 menjadi kesempatan untuk mengubah potensi lokal menjadi produk dengan nilai tambah lebih tinggi. Penguatan kapasitas, akses pembiayaan, digitalisasi dan jejaring pasar menjadi kunci agar produk daerah mampu bersaing di pasar nasional hingga menembus pasar global.(KUP)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *